Laman

Jumat, 09 Februari 2018

Menyelesaikan Persoalan dengan Sikap Bijak, Cerdas dan Matang

Oleh : Atep Afia Hidayat

Beragam persoalan senantiasa datang dan pergi dalam kehidupan setiap orang. Tidak ada kehidupan yang bebas persoalan. Ya, ibarat sekolah, setiap akhir semeter selalu ada ujian dengan sekian banyak persoalan yang harus dijawab secara bijak, cerdas dan matang. Lantas bagaimana menyikapi datangnya setiap persoalan tersebut ?


Tentu saja hal yang pertama ialah "melihat" persoalan tersebut dari sudut pandang 360 derajat, jangan hanya dari satu sisi, namun dari sudut pandang yang komprehenship. Apa persoalan yang sebenarnya, di mana sumber persoalannya, seperti apa konten persoalannya, kalau perlu dibuatkan dulu mind mapping. Apa tidak kelamaan, sehingga persoalan malah menggelembung ? Tentu tahapan "melihat" persoalan jangan terlalu lama, sebab setiap persoalan harus ditindaklanjuti dengan solusi yang bijak, cerdas dan matang. Ada pepatah Sunda  yang menyatakan caina herang laukna beunang. Ya, seperti tahapan ujian di sekolah, ada durasi waktu untuk penyelesaiannya, 90 menit , 120 menit, atau 150 menit, yang penting jangan melewati batas waktu.

Setelah "penampakan" persoalan menjadi jelas benang-merahnya, langkah berikutnya adalah menyelesaikan tahap per tahap persoalan tersebut. Tahap-tahap persoalan itu dapat menyangkut diri sendiri (internal) atau orang lain (eksternal). Jika menyangkut internal maka lakukan terlebih dahulu kompromi dengan diri sendiri; Tenangkan diri sedemikian rupa sehingga tidak ada ketergesa-gesaan. Jangan terburu-buru membuat vonis atau keputusan. Perumpamaannya ketika ada seekor nyamuk hinggap dan menggigit salah satu organ tubuh, misalnya pergelangan tangan sebelah kiri. Jangan cepat emosi, sehingga dengan sekuat tenaga telapak tangan sebelah tangan memukulnya dengan sangat kencang. Hal yang terjadi ialah nyamuknya kabur, dan pergelangan tangannya menjadi kesakitan. Dalam hal ini tidak perlu kencang-kencang memukulkan telapak tangan, pelan-pelan saja tapi cukup jitu dan tepat sasaran. Pelan-pelan di sini tentu dengan penuh perhitungan, kehati-hatian dan kecermatan. Nah, seperti itulah tahapan persoalan harus diselesaikan, tidak perlu dengan energi yang telalu besar, sehingga menimbulkan keletihan dan kerja organ jantung yang lebih keras.

Dalam proses penyelesaian persoalan perlu memperhatikan rancangan solusi akhirnya seperti apa, yang diutamakan tentu saja win win solution, solusi yang menguntungkan dua belah pihak, tidak ada yang dirugikan. Jangan mengejar kemenangan yang menyebabkan terjadinya guncangan atau korban disatu pihak. Bisa saja kemenangan tersebut hanya bersifat semu, hanya sesaat, dan menimbulkan penyesalan jangka panjang.


Tangerang, 9 Februari 2017 (Pukul 00.47 WIB)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar